Perilaku dan Ciri Anak Autis

Masalah Perilaku dan Ciri Anak Autis

Masalah perilaku anak-anak dengan ciri anak autis pada gangguan spektrum autistik dan anak lainnya adalah salah satu masalah yang paling menantang dan sering kali membuat stres orang tua dan sekolah dalam upaya menyediakan program pendidikan yang sesuai. Masalah perilaku seperti perusakan properti, agresi fisik , cedera diri , dan tantrum merupakan hambatan utama bagi pembangunan sosial dan pendidikan yang efektif (Horner et al , 2000;Riechle , 1990).

Perilaku ini yang menyebabkan anak sulit untuk interaksi sosial, pendidikan, keluarga , dan kegiatan masyarakat.Selain itu, masalah perilaku mungkin menjadi beban berat pada keluarga , karena anak tumbuh dari usia prasekolah ke usia sekolah,( ke khawatiran orang tua terhadap prilaku anak sehingga disekolah menerapkan prosedur kedisiplinan).

Masalah perilaku seperti perusakan properti, agresi fisik , cedera diri , dan tantrum merupakan hambatan utama bagi pembangunan sosial dan pendidikan yang efektif (Horner et al , 2000;Riechle , 1990).

Definisi masalah perilaku tergantung pada sudut pandang seseorang untuk menilai, apakah sudut pandang seorang anak dengan gangguan spektrum autistik atau sudut pandang dari orang tua atau guru.

Dari sudut pandang anak, masalah perilaku meliputi:

  • Ketidakmampuan untuk memahami tuntutan kelas/orang tua
  • Kesulitan berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka
  • Kesulitan berat dalam memulai dan mempertahankan interaksi sosial dan hubungan
  • Kebingungan tentang efek dan konsekuensi dari banyak perilakunya
  • Banyak berperilaku terbatas dan berulang-ulang
  • Sehingga dapat membatasi kemampuan anak untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya .

Dari sudut pandang seorang guru atau orang tua:

  • Masalah perilaku meliputi kurangnya kepatuhan atau gangguan rutinitas kelas
  • Suka tantrum
  • Merusak benda-benda,
  • Agresi terhadap diri sendiri atau orang lain

Dari pernyataan di atas, untuk mengurangi kesulitan atau membantu mereka yaitu mengajarkan untuk mengungkapkan keinginan dengan cara berkomunikasi.Siegel (1996:44) secara umum menggambarkan perkembangan komuniksi anak autis terbagi dalam dua bagian, yaitu:

  1. Perkembangan komunikasi verbal, meliputi keterlambatan berbahasa bahkan ada diantara mereka yang kemampuan berbahasanya hilang, echolalia dan menggunakan bahasa yang aneh/tidak dimengerti, menggunakan bahasa sederhana (misalnya minta makan:”Makan, ya!”).
  2. Perkembangan komunikasi non verbal, meliputi menggunakan gestur, gerak tubuh, mengungkapkan keinginan dengan ekspresi emosi (menjerit, marah-marah, menangis).

Komunikasi verbal difokuskan pada terapi wicara, yang arahnya meningkatkan kosakata kemampuan semantik. Komunikasai non verbal difokuskan pada terapi perilaku, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dan motorik kasar serta panca indera anak.

Ada dua tujuan utama dalam menangani masalah perilaku sosial anak dari segi komunikasi ;

  • Meningkatkan lingkungan yang mendukung
  • Menciptakan lingkungan agar kesulitan perilaku sosial berkurang dapat dilaksanakan dengan mengembangakan alat peraga visual untuk mendukung komunikasi terutama difokuskan pada cara penyampaian informasi. Metode pendidikan menyarankan untuk mengajarkan rutinitas kegiatan dengan membuat jadwal.
  • Mengembangkan keterampilan alternatif
  • Mengembangkan keterampilan alternatif agar perilaku yang tidak disukai berkurang, hal ini berlaku pada anak autis yang mengalami gangguan verbal atau non verbal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang terlihat ada suatu kaitan metode komunikasi verbal dan non verbal yang diberikan kepada anak penyandang autis.

Selain komunikasi ada beberapa hal yang memicu terjadinya masalah perilaku yang harus diketahui orang tua dan guru. Berikut adalah beberapa contoh pemicu internal masalah perilaku .

-Rasa sakit: Carilah sumber rasa sakit, seperti gigi,pencernaan,luka, infeksiatau memar.kemungkinan anak terlihat biasa saja meskipun terasa sakit. Contoh:anak duduk meringkuk di bola kemungkinan sakit perut. -Kejang : Anak mungkin akan kejang tiba-tiba ketika tidak mendapat tekanan atau hal yang lain.Jika Anda khawatir tentang hal ini, anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. -Alergi makanan dan kepekaan : Cobalah untuk mengidentifikasi alergi makanan yang mungkin mengganggu anak Anda. Banyak orang tua yang bilang ketika anaknya makan makanan tertentu menjadi aktif atau flapping yang berlebih, terkadang diet dapat mengurangi gerak yang berlebih (namun setiap anak berbeda-beda). -Kelelahan , lapar , atau haus : sama dengan anak normal ketika lapar, lelah, atau haus bisa membuat anak rewel.

Sensorik anak sangat berbeda, Dia mungkin lebih sensitif oleh informasi yang masuk melalui beberapa hal, mungkin marah dengan suara keras dan regulasi diri kurang.Untuk mengatasi kebingungan, anak perlu merangsang indranya.

Di sekolah pada umumnya anak belajar sekitar lima indra: rasa, bau , suara , penglihatan , dan sentuhan. Namun yang paling penting untuk anak autisme adalah: vestibular , yang mengontrol keseimbangan , dan proprioceptif atau rasa tubuh seseorang dalam ruang. pada dasarnya ciri anak autis memiliki perbedaan, beberapa indera ini terlalu banyak, terlalu sedikit, atau terganggu, rasa sakit.

Tag:
perilaku anak autis, tingkah laku anak autis, prilaku anak autis, perilaku autis, perilaku autisme, contoh anak autis, perilaku anak autisme, sikap autis, contoh perilaku anak autis, gangguan perilaku pada anak autis, kelakuan anak autis, Sikap anak autis, anak autis dan perilakunya, prilaku AUTIS, apa itu perilaku autistik, ciri perilaku anak autis, anak autis non verbal, contoh autis, apa tujuan anak autis mengalami perilaku, perilaku anak autis di sekolah
Bookmark the permalink.

Comments are closed